twitter
googleplus
facebook

Tips Menghindari Penipuan Online

Hay sob apa kabar?
Bingung nih mau posting apa kali ini, streamingan di Youtube, trus liat "Indonesia Lawak Klub" temanya tentang Penipuan. jeeeng jeeeng alhasil dapet ide untuk posting apa. Yups tentunya sobat jengkel kan dengan maraknya penipuan yang akhir - akhir ini marak terjadi di indonesia. Mulai dari penipuan mama minta pulsa sampai penipuan transaksi online yang saat ini sedang marak - maraknya. Tentunya ini menjadi ketakutan publik yang dapat berdampak buruk bagi pihak yang di rugikan. Dengan pesatnya kemajuan teknologi tentunya modus penipuan juga menjadi baru dan lebih canggih tekniknya. untuk itu sobat harus punya langkah antisipasi dalam menghadapi modus penipuan.
Pada postingan kali ini saya coba kutip beberapa tips,dalam mengantisipasi penipuan baik itu penipuan transaksi online, dan penipuan dengan modus lainnya.




TIPS MENGHINDARI PENIPUAN TOKO ONLINE

Kadang sering kita jumpai dalam sebuah berita tentang penipuan yang terjadi di dunia maya. Kebanyakan modusnya adalah penipu yang berpura-pura sebagai penjual produk. Setelah sejumlah uang ditransfer oleh pembeli. Lalu si penipu membawa lari uang tersebut.

Biasanya aksi yang mereka lakukan menggunakan identitas palsu. Biasanya korbannya adalah orang-orang yang masih awam dengan bisnis atau transaksi online. Bagi penipu, mereka adalah sasaran empuk untuk melancarkan aksinya.

Penipuan merupakan salah satu kejahatan yang apabila dilakukan akan terkena pasal undang-undang seperti yang tertuang dalam Pasal 28 ayat (1) UU ITE yang menyatakan: “Setiap Orang dengan sengaja, dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik.” Dalam pasal ini disebutkan juga, bagi yang melakukan tindak kriminal dalam kasus penipuan melalui transaksi elektonik akan diancam hukuman penjara selama 6 tahun dan/atau denda sebesar paling banyak 1 milyar rupiah". 

Meski ada pasal tentang transaksi penipuan elektronik, tapi kita tidak boleh meremehkannya. Karena bila hal ini terjadi polisi pun akan sulit melacaknya. Untuk itu sebaiknya, sebelum hal itu terjadi, kita perlu tahu bagaimana langkah-langkah yang tepat untuk menghindarinya. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

  1. Hati-hati dengan harga murah Sebelum kita memutuskan untuk membeli, sebaiknya kita tahu harga kisaran yang sesuai dengan kualitas produk. Apabila kisaran harga produk tersebut terlalu murah atau jarak antara harga terlalu jauh misal lebih dari 50% dari kisaran harga normal. Maka hal itu patut dicurigai dan kemungkinan besar itu adalah penipuan.
  2. Lakukan penyelidikan Kita bisa selidiki profil toko online tersebut, mulai dari nama lengkap, alamat, dan nama usaha toko online-nya. Kalau ada salah satu dari yang disebutkan tadi, tercantum dalam toko on line tersebut maka kita bisa melanjutkan penyelidikan ke tahap berikutnya. Misal disitu cuma ada nama pemilik, kita bisa menelusuri informasi lebih lanjut dengan menggunakan google. Kalau setelah dicari, kita menemukan facebook atau twitter miliknya, kita bisa menjadi temannya dan melihat komentar-komentar di facebook atau twitter-nya. Dari situ, kita bisa memperkirakan apakah dia penipu atau bukan.
  3. Domain Gratis Hati-hati bila alamat toko online menggunakan domain gratis karena bisa jadi itu merupakan penipuan. Biasanya toko online yang benar-benar setius mereka akan menggunakan domain yang berbayar. Disisi karena kesungguhan, juga karena didalam dunia internet domain berbayar juga menunjukan kredibilitas usaha. tapi tunggu dulu meski begitu, kita masih perlu untuk waspada, kadang ada juga yang menggunkan domain berbayar untuk penipuan. Untuk itu perlu diperiksa, caranya bisa menggunakan whois domain tool, di www.whois.com . Disitu kita bisa mencari informasi tentang domain tersebut dan untuk mengetahui apakah toko online tersebut bisa dipercaya adalah apabila informasi yang diberikan tidak diprotect atau disembunyikan.
  4. Metode Pembayaran Kalau kita ingin mencari jalur yang aman, kita bisa menggunakan metode pembayaran COD atau cash on delivery. Jadi kita membayar setelah barang diantar,dengan begitu kita bisa memeriksa terlebih dahulu keaslian barang tersebut sebelum membayarnya. Selain metode COD, bisa juga menggunakan kartu kredit karena metode ini cukup bisa dipercaya, melihat prosedur yang ketat dalam penggunaan kartu kredit. Lalu metode yang sebaiknya dihindari adalah transfer antar bank, cara ini cukup beresiko karena kita tidak bisa menjamin uang kita akan kembali bila terjadi penipuan. Kalaupun harus menggunakan cara ini, buatlah perjanjian dengan pembeli menggunakan rekber atau rekening bersama. Penipu biasanya tidak menggunakan metode COD, kartu kredit atau Rekber, meski cara ini aman tapi tetap kita perlu berhati-hati.
  5. Hati-hati dengan lokasi Batam atau toko online elektronik Hal yang perlu diwaspadai adalah lokasi penjual toko online. Bila lokasi tersebut adalah Batam, maka toko online tersebut patut dicurigai karena sekarang ini banyak toko online palsu yang mengaku dari Batam. Selain lokasi juga jenis toko online, bila itu merupakan toko online yang menjual barang-barang elektronik maka besar kemungkinan itu adalah tipuan.

TIPS CARA AMAN BELANJA ONLINE

Cara belanja/berjualan secara online sangat membantu bagi penjual atau pembeli yang terpisah jarak dan juga dapat menghapus kendala menghabiskan waktu dalam berbelanja. Cukup dengan menghubungi penjual, sepakat dengan harga, pembeli membayar (biasanya transfer) lalu penjual mengirimkan barang, pembeli bisa mendapatkan barang yang diinginkan.

Namun ringkasnya dan "terlalu" mudahnya cara berbelanja online ternyata memberi celah bagi oknum-oknum tertentu untuk melakukan penipuan. Tidak sedikit calon pembeli maupun penjual tertipu dan mengalami kerugian finansial yang tidak sedikit. Banyak cara atau motif oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan penipuan. Cara apa saja yang dilakukan oknum penipu? Untuk menambah pengetahuan teman-teman, berikut beberapa pembahasan dasar mengenai penipuan dalam belanja Online.

1. Penipuan Transfer Langsung
Cara ini merupakan cara paling konvensional yang biasa terjadi di dunia Online. Biasanya yang paling dirugikan oleh penipuan konvensional seperti ini adalah calon pembeli. Penipu biasanya bertindak sebagai penjual yang menawarkan barang menarik (biasanya barang elektronik seperti laptop atau gadget) dengan iming-iming harga sangat murah. Penipu, yang berkedok sebagai penjual, biasanya mengatakan bahwa alamat penjual berada di jarak yang sangat jauh atau antar pulau sehingga tidak bisa bertemu langsung atau biasanya dikenal dengan COD (Cash on delivery). Penipu akan meminta calon pembeli untuk mentransfer sejumlah uang terlebih dahulu baru kemudian barang dikirimkan. Ketika calon pembeli mengirimkan sejumlah uang, penipu kemudian menghilang bersama sejumlah uang yang dikirim (biasanya nomor yang dihubungi adalah nomor Handphone dan SIM card langsung tidak aktif).

Ada juga kejadian penjual yang tertipu dengan calon pembeli yang mengiming-imingi membeli barang dengan jumlah yang banyak dengan syarat membayar uang muka terlebih dahulu baru kemudian pelunasan ketika barang sudah diterima. Namun kejadian ini sangat jarang terjadi. Tetapi sebagai penjual, tentu tidak sedikit kerugian yang dialami ketika tertipu oleh kejadian ini.

Bagaimana cara menghindari penipuan seperti ini? Cara paling mudah dan efektif untuk mengatasi penipuan transfer langsung adalah dengan menggunakan jasa pihak ketiga (Rekber). Sebagai pembeli, untuk menjamin "keselamatan" transaksi, anda akan mengirimkan sejumlah pembayaran ke rekber dan bisa dikonfirmasikan untuk dikirimkan ke penjual ketika barang sudah diterima. Sebagai catatan, penjual dan pembeli harus sama-sama setuju dalam menggunakan jasa Rekber. Namun keamanan menggunakan rekber juga memiliki resiko, seperti dibahas di point kedua.


2. Penipuan Rekber Fiktif
Cara ini biasanya dilakukan karena banyak orang menggunakan jasa Rekening Bersama atau RekBer (orang ketiga sebagai perantara pembayaran) namun calon korban tidak mengetahui bahwa perantara tersebut adalah perantara fiktif atau sudah sekongkol dengan penipu. Penipuan dengan cara ini biasanya menimpa anda yang bertindak sebagai penjual yang menjual barang. Penipu, yang bertindak sebagai pembeli, biasanya seolah-olah takut tertipu sehingga menawarkan sistem pembayaran dengan pihak ketiga (rekber) sebagai syarat bertransaksi. Tanpa korban ketahui, rekber yang ditawarkan adalah rekber fiktif alias rekayasa dengan penipu. Penipu akan mengatakan bahwa sejumlah pembayaran sudah ditransfer ke rekber fiktif. Rekber fiktif biasanya hanya akan mengkonfirmasi ke penjual melalui telepon atau SMS menggunakan nomor HP sehingga penjual segera mengirimkan barang. Ketika barang sudah dikirimkan, kembali lagi, penipu akan menghilang bersama barang yang sudah dikirimkan (sama seperti penipuan nomor 1, biasanya nomor yang dihubungi adalah nomor Handphone dan SIM card langsung tidak aktif). Tidak jarang juga terjadi penipuan "segitiga" dimana penipu bertindak sebagai penjual. Ketika pembeli percaya menggunakan jasa rekber fiktif dan menyetor sejumlah pembayaran, saat itu pula sejumlah uang raib tertipu.

Bagaimana cara menghindari penipuan Rekber Fiktif? Hal utama yang harus anda kenali dalam transaksi dengan menggunakan jasa pihak ketiga adalah KENALI PIHAK KETIGA TERSEBUT. Tidak jarang orang "mengatasnamakan" Rekber dalam bertransaksi karena TERLALU MUDAHNYA transaksi menggunakan jasa rekber tersebut. Ingat, terlalu mudah tidak berarti transaksi anda akan AMAN.

3. Penipuan Transaksi Segitiga menggunakan Rekber.
Ini adalah modus terbaru yang dilakukan oleh penipu dalam beroperasi. Tidak tanggung-tanggung, dengan cara ini dalam satu kali beraksi penipu langsung bisa menipu penjual dan pembeli. Bagaimana cara penipu beraksi?

Pertama, penipu sebut saja (P) bertindak seolah-olah menjadi penjual dan deal dengan calon korban yang bertindak sebagai pembeli sebut saja (korban A) dengan nilai transaksi sebesar 500 ribu. Di saat yang bersamaan, P bertindak seolah-olah sebagai pembeli dan deal membeli barang seharga 50 ribu dari seorang penjual sebuat saja (korban B). P meminta korban A untuk mentransfer melalui rekber dengan tujuan pembayaran ke alamat rekening Korban B. Setelah itu P mengkonfirmasi kepada Korban B bahwa dia sudah melakukan pembayaran (beserta dengan konfirmasi dari rekber yang menerima dana) dan meminta barang segera dikirim ke alamat yang diminta oleh P (biasanya alamat khusus yang sudah ditunggui oleh P namun bukan alamat P). Setelah itu, P memberitahu kepada korban B bahwa P sudah kelebihan dalam mentransfer dan meminta Korban B untuk melakukan transfer kembali kelebihan dana, namun kali ini tujuannya ke rekening rekber. Setelah mengecek rekening dan benar ada kelebihan dana, tentunya korban B langsung mentransfer kelebihan dana ke rekening rekber yang diminta oleh P. Kelebihan dana tersebut kemudian digunakan kembali untuk membeli barang dari penjual lain. Taaraaa, 2 korban sekaligus tertipu bukan? Hanya pembeli yang tertipu?

Begini, memang kerugian terbesar dari kasus 3 dialami oleh korban A. Namun apa yang dialami korban B sebagi penjual tentu bisa merusak reputasinya dan ke depannya bisa jadi akan sangat mempengaruhi penjualan dari korban B. Dan satu lagi, korban B secara langsung telah tertipu dengan memberikan dana berlebih (yang asalnya dari korban A) kepada Penipu.

Bagaimana cara menghindari penipuan transaksi segitiga seperti kasus 3? Dalam hal ini yang sangat harus diperhatikan adalah kebijakan dari rekber yang digunakan. Sebagai catatan khusus, rekber yang baik adalah rekber yang mewajibkan anggotanya untuk mencantumkan rekening yang dimiliki calon anggota dan wajib didaftarkan untuk diverifikasi ketika mendaftar. Rekber kemudian akan memproses setiap transaksi dari anggota-anggota terdaftar dengan tujuan atau yang berasal dari rekening-rekening yang sudah terdaftar. Jika ada transaksi yang meminta tujuan “dialihkan” ke rekening tertentu, tentu ada sebuah kejanggalan dan pihak rekber tentu memiliki kebijakan sendiri dan berhak membatalkan transaksi tersebut untuk melindungi dana pembeli dan reputasi penjual. Bukan begitu?

Bagaimana kita bisa menilai rekber yang benar-benar menjamin keamanan bertransaksi? Rekber yang terjamin keamanannya biasanya memiliki beberapa ciri tertentu. 

  1. Pertama, sebagai pihak ketiga dalam hal pembayaran online, Rekber tentunya memiliki website resmi sendiri. Website resmi dalam hal pembayaran sendiri tentunya harus memiliki sistem keamanan sendiri. Oleh karena itu, website pembayaran yang aman biasanya menggunakan secure website (terlihat di bar alamat website dan biasanya dengan menggunakan https://).
  2. Kedua, sebagai badan usaha, rekber yang aman adalah rekber yang memiliki badan hukum usaha atau dengan kata lain sudah berdiri sebagai perseroan (PT) diatas dari jasa rekber tersebut.
  3. Ketiga, berhubungan dengan pernyataan kedua di atas, sebagai sebuah badan hukum atau perseroan, sebuah rekber memiliki rekening atas nama perusahaan. Walau menggunakan jasa berbagai bank dalam layanannya,semua rekening dari masing-masing bank pasti adalah rekening atas nama perusahaan (bukan rekening perorangan).


TIPS UNTUK MENGHINDARI PENIPUAN ONLINE

1. Cek alamat si penjual.
Penipu biasanya tidak mau mencantumkan alamat rumah/tempat usahanya, atau malah sengaja memberikan alamat tapi Palsu. Oleh karena itu, Anda harus cek alamt yang diberikannya melalui teman yang sekota dengan si penjual, atau bisa cek di Google apakah alamat tersebut benar-benar ada.

2. Cek nomor telepon/ponsel si penjual.
Jika setelah Anda cek benar-benar ada, Anda harus telepon Telkom 108 menanyakan nomor Fixed Landline/ telepon rumah/kantor (bukan ponsel atau Flexi). Lalu cobalah menelepon ke nomor telepon di alamat tersebut, apakah si penjual benar-benar ada.

3. Jangan menggunakan sms untuk berkomunikasi.
Biasanya, Penipu Online juga tidak mau mengangkat telepon dan hanya mau menjawab melalui SMS karena khawatir dikenali suaranya melalui Voice Recognizer oleh Polisi.

4. Cek nomor si penjual di google.
Penipu online juga mempunyai nomor ponsel yang bisa anda cek di Google. Ketik saja nomor ponselnya disertai dengan kata Penipu. Misal : "081234567890 Penipu", maka biasanya anda bisa melihat beberapa kasusyang melibatkan dirinya.

5. Gunakan fasilitas Verified Member
Namun hati-hati juga karena Penipu Online suka gonta ganti nomor ponsel dan Profile. Sehingga saat di cek di Google tidak kelihatan nomor ponselnya. Maka Fasilitas seperti Verified Member bisa membantu. Verified member adalah Member yang sudah terverifikasi dan sudah di cek alamatnya adalah asli. Verified Member, apalagi yang sudah bergabung sejak lama dengan jumlah barang jualan yang banyak, biasanya lebih terjamin

6. Waspada terhadap penjual yang masih baru.
Biasanya Penipu Online berganti2 Profile, jadi Anda harus lebih waspada terhadap para Member-member anyar yang baru bergabung pada bulan yang sama saat anda membeli.

7. Jangan memberi DP (Down Paymen) Besar
Cukup berikan dalam jumlah kecil yang kalau misalnya sampe hilang, tidak terlalu merugikan anda. Kalau orang tersebut memaksa meminta DP (Down Paymen) besar dengan alasan ini itu, maka TOLAK SAJA. Sebab penjual yang baik tidak terlalu mempermasalahkan jumlah DP (Down Paymen) asal benar-benar serius membeli, namun mengutamakan pelunasan yang tepat waktu.

8. Gunakan bantuan Rekber (Rekening Bersama) atau Expedisi
Jangan membayar lunas barang yangg Anda beli. Sebaiknya gunakan REKBER (Rekening Bersama) yang dikelola pihak ketiga dengan bertanggungjawab.Apabila tidak menggunakan Rekber, maka Anda bisa memanfaatkan jasa Expedisi. Caranya :

Minta si Penjual menentukan akan dikirim melalui Expedisi mana? Setiap kantor Expedisi pasti punya nomor telepon/fax kantor.b. Minta si penjual utk mengirimkan ke Expedisi tersebut. Dan saat penjual sudah tiba di kantor expedisi, maka anda bisa telepon ke kantor expedisi tersebut, apakah penjual dan barangnya betul-betul sudah disana utk membuktikan bahwa si penjual bener2 REAL.
Jika si penjual dan barangnya benar-benar sudah ada disana, itu membuktikan bahwa dia serius. Maka Anda bisa transfer ke rek penjual tersebut. Jika memungkinkan, sebaiknya transfer setelah nomor resi pengiriman keluar, dengan demikian itu artinya barang sudah benar-benar di tangan expedisi.
Ingat, setelah melakukan transfer, Anda juga harus cek lagi ke expedisi dan katakan bahwa barang yang Anda sudah ditransfer, jangan sampai setelah di transfer, barang yang anda beli dibatalkan pengirimannya oleh si penjual.Tapi, diantara semua TIPS tersebut, langkah terbaik dan paling aman adalah COD (Cash On Delivery) atau LCD (Lihat, Cocok, Dibayar)dengan beratap muka langsung dengan penjualnya. dan menggunakan REKBER yang kompeten.

Jika Anda tertipu, jangan ragu untuk melaporkan ke pihak berwenang, baik Penyelenggara Toko Online atau melaporkannya ke Polisi.
  • Title : Tips Menghindari Penipuan Online
  • Labels :
  • Author :
  • Rating: 100% based on 10 ratings. 5 user reviews.
  • 0 komentar:

    Poskan Komentar