twitter
googleplus
facebook

Intisari dan kesimpulan yang dapat kita ambil dari film Mr. V (mr. Vendetta)


Membicarakan tentang Mr. V (Mr.Vendetta) sebenarnya ini adalah tokoh idola saya. Manusia bertopeng,dengan topi hitam,jas hitam dan jubah hitam,serta gaya rambut yang panjang terurai ini mempunyai kesan keren dan gaya berkelahi yang luar biasa. Alasan saya mengidolakan tokoh yang satu ini sebenarnya karena ia bukan manusia super seperti tokoh super hero lainnya yang memiliki kekuatan super dalam melindungi negara dari ancaman musuh, tapi dalam karakter Mr.Vendetta ini adalah manusia biasa yang mempunyai misi untuk merubah tatanan negara dari kepemimpinan yang kejam dan otoriter dengan mengerahkan semua kemampuan yang ias miliki meski tidak punya kekuatan super tapi ia bisa mewujudkan impiannya itu. Vendetta dalam film ini berinisial V for Vendetta adalah salah satu film straight yg menjadikan tema gay/lesbian sebagai nadi dlm cerita. Film ini kalau diputar di zaman Soeharto mungkin bakal dianggap mengandung unsur subversif. Ber-seting tahun 2020, saat itu Inggris Raya dipimpin oleh kanselir megalomaniak bernama Adam Sutler (John Hurt).

Kisah film ini dimulai ketika Evey (diperankan dgn sangat baik oleh Natalie Portman) yang melanggar jam malam dan hendak ditangkap oleh polisi khusus, dan seorang lelaki yang mengenakan topeng Guy Fawkes menolongnya. Lelaki bertopeng itu mengaku bernama V (Hugo Weaving) yang merupakan kependekan dari Vendetta (balas dendam). Evey jadi terjebak bersama V karena malam ketika V menolongnya V ternyata meledakkan gedung dan membuat wajah Evey terekam kamera dan polisi mencurigai dirinya.

V for Vendetta diangkat dari graphic novel karya Alan Moore dan ilustrator David Lloyd. Skenario ditulis Andy dan Larry Wachowski, sutradara Bound dan trilogi Matrix. Dan disutradarai James McTeigue yg merupakan film perdananya.

Adam Sutler mengingatkan saya pada Hitler tentang bagaimana dia menganggap sesuatu yang berbeda harus dimusnahkan. Muslim, homoseksual, atau etnis minoritas. Pembodohan terhadap publik dilakukan melalui berbagai propaganda dan televisi merupakan salah satu cara untuk membuat masyarakat makin bodoh dan diyakinkan oleh propaganda pemerintah... (hehehe, jd inget tayangan televisi kita sendiri)

Oke, balik ke tema lesbian. Saat Evey sedang ditahan di sel, dia mendapat surat lewat lubang tikus. Surat2 itu ditulis oleh Valerie yang lesbian tentang perjalanan hidupnya. "Autobiografi" Valerie Page yang ditulis di kertas toilet memotivasi Evey untuk bertahan. Surat Valerie itu mengubah hidup Evey. Dan surat-surat Valerie itulah yang mendorong kelahiran kembali Evey (dan V) sehingga menjadikan mereka sebagai pahlawan dalam film ini.

Selain Valerie, masih ada tokoh pembawa acara TV, Gordon Dietrich(Stephen Fry) yang menjadi gay in-the-closet. V for Vendetta adalah film yang berani, dengan cerita yang luar biasa dahsyat dan cocok untuk ditonton di zaman sekarang saat pemerintah dikuasai oleh orang-orang yang gila kekuasaan, munafik, dan membodohi masyarakatnya.

ini adalah contoh surat yang ditulis valerie untuk evey:

I don't know who you are. Please believe. There is no way I can convince you that this is not one of their tricks. But I don't care. I am me, and I don't know who you are, but I love you.

I have a pencil. A little one they did not find. I am a women. I hid it inside me. Perhaps I won't be able to write again, so this is a long letter about my life. It is the only autobiography I have ever written and oh God I'm writing it on toilet paper.

I was born in Nottingham in 1957, and it rained a lot. I passed my eleven plus and went to girl's Grammar. I wanted to be an actress.

I met my first girlfriend at school. Her name was Sara. She was fourteen and I was fifteen but we were both in Miss. Watson's class. Her wrists. Her wrists were beautiful. I sat in biology class, staring at the picket rabbit foetus in its jar, listening while Mr. Hird said it was an adolescent phase that people outgrew. Sara did. I didn't.

In 1976 I stopped pretending and took a girl called Christine home to meet my parents. A week later I enrolled at drama college. My mother said I broke her heart.

But it was my integrity that was important. Is that so selfish? It sells for so little, but it's all we have left in this place. It is the very last inch of us. But within that inch we are free.

London. I was happy in London. In 1981 I played Dandini in Cinderella. My first rep work. The world was strange and rustling and busy, with invisible crowds behind the hot lights and all that breathless glamour. It was exciting and it was lonely. At nights I'd go to the Crew-Ins or one of the other clubs. But I was stand-offish and didn't mix easily. I saw a lot of the scene, but I never felt comfortable there. So many of them just wanted to be gay. It was their life, their ambition. And I wanted more than that.

Work improved. I got small film roles, then bigger ones. In 1986 I starred in "The Salt Flats." It pulled in the awards but not the crowds. I met Ruth while working on that. We loved each other. We lived together and on Valentine's Day she sent me roses and oh God, we had so much. Those were the best three years of my life.

In 1988 there was the war, and after that there were no more roses. Not for anybody.

In 1992 they started rounding up the gays. They took Ruth while she was out looking for food. Why are they so frightened of us? They burned her with cigarette ends and made her give them my name. She signed a statement saying I'd seduced her. I didn't blame her. God, I loved her. I didn't blame her.

But she did. She killed herself in her cell. She couldn't live with betraying me, with giving up that last inch. Oh Ruth. . . .

They came for me. They told me that all of my films would be burned. They shaved off my hair and held my head down a toilet bowl and told jokes about lesbians. They brought me here and gave me drugs. I can't feel my tongue anymore. I can't speak.

The other gay women here, Rita, died two weeks ago. I imagine I'll die quite soon. It's strange that my life should end in such a terrible place, but for three years I had roses and I apologized to nobody.

I shall die here. Every last inch of me shall perish. Except one.

An inch. It's small and it's fragile and it's the only thing in the world worth having. We must never lose it, or sell it, or give it away. We must never let them take it from us.

I don't know who you are. Or whether you're a man or a woman. I may never see you or cry with you or get drunk with you. But I love you. I hope that you escape this place. I hope that the world turns and that things get better, and that one day people have roses again. I wish I could kiss you.

Valerie

X

from V for Vendetta
Written by Alan Moore.
Art by David Lloyd.



Yang kurang lebih begini isinya :

Saya tidak tahu siapa Anda. Silakan percaya. Tidak ada cara saya dapat meyakinkan Anda bahwa ini bukan salah satu dari trik mereka. Tapi aku tidak peduli. Aku adalah aku, dan aku tidak tahu siapa Anda, tapi aku mencintaimu.

Aku punya pensil. Yang sedikit mereka tidak menemukan. Saya seorang wanita. Aku menyembunyikannya di dalam diriku. Mungkin saya tidak akan bisa menulis lagi, jadi ini adalah sebuah surat panjang tentang kehidupan saya. Ini adalah otobiografi-satunya yang pernah saya tulis dan oh Tuhan, aku sedang menulis di atas kertas toilet.

Saya lahir di Nottingham pada tahun 1957, dan hujan banyak. Saya lulus ditambah sebelas saya dan pergi ke Grammar gadis. Aku ingin menjadi seorang aktris.

Saya bertemu pacar pertama saya di sekolah. Namanya Sara. Dia adalah empat belas dan aku lima belas tapi kami berdua di kelas Miss Watson. Pergelangan tangannya. Pergelangan tangan yang indah. Aku duduk di kelas biologi, menatap janin piket kelinci di jar nya, mendengarkan sementara Mr Hird mengatakan itu adalah fase remaja yang orang outgrew. Sara lakukan. Aku tidak.

Pada tahun 1976 saya berhenti berpura-pura dan mengambil gadis bernama Christine rumah untuk bertemu dengan orang tua saya. Seminggu kemudian saya mendaftar di perguruan drama. Ibuku bilang aku patah hatinya.

Tapi itu integritas saya yang penting. Apakah itu begitu egois? Ini dijual seharga begitu sedikit, tapi itu semua kita tinggalkan tempat ini. Ini adalah inci terakhir dari kami. Namun dalam inci bahwa kita bebas.

London. Saya sangat senang di London. Pada 1981 saya bermain di Dandini Cinderella. Pertama saya rep kerja. Dunia ini aneh dan gemerisik dan sibuk, dengan banyak terlihat di belakang lampu panas dan semua yang glamor terengah-engah. Itu menarik dan itu kesepian. Pada malam aku akan pergi ke Ins Kru-atau salah satu klub lainnya. Tapi aku dingin sekali dan tidak berbaur dengan mudah. Saya melihat banyak adegan, tapi aku tidak pernah merasa nyaman di sana. Begitu banyak dari mereka hanya ingin menjadi gay. Itu kehidupan mereka, ambisi mereka. Dan aku ingin lebih dari itu.

Bekerja ditingkatkan. Aku mendapat peran film kecil, maka yang lebih besar. Pada tahun 1986 saya membintangi "The Salt Flats." Hal menarik dalam penghargaan tapi tidak banyak. Aku bertemu Ruth saat bekerja pada itu. Kami saling mencintai. Kami tinggal bersama-sama dan pada Hari Valentine dia mengirimi saya mawar dan oh Tuhan, kami punya begitu banyak. Mereka adalah tiga terbaik tahun hidup saya.

Pada tahun 1988 ada perang, dan setelah itu ada mawar lagi. Bukan untuk siapa pun.

Pada tahun 1992 mereka mulai mengumpulkan para gay. Mereka mengambil Ruth saat ia keluar mencari makanan. Mengapa mereka begitu takut dari kita? Mereka membakarnya dengan ujung rokok dan membuatnya memberi mereka nama saya. Dia menandatangani pernyataan yang mengatakan aku menggodanya. Saya tidak menyalahkan dia. Tuhan, aku mencintainya. Saya tidak menyalahkan dia.

Tapi dia melakukannya. Dia bunuh diri di selnya. Dia tidak bisa hidup dengan mengkhianati saya, dengan memberikan up yang terakhir inci. Oh Ruth. . . .

Mereka datang untuk saya. Mereka mengatakan kepada saya bahwa semua film saya akan dibakar. Mereka mencukur rambut saya dan memegang kepala saya turun mangkuk toilet dan menceritakan lelucon tentang lesbian. Mereka membawa saya ke sini dan memberi saya obat. Aku tidak bisa merasakan lidahku lagi. Saya tidak bisa bicara.

Para wanita gay lain di sini, Rita, meninggal dua minggu lalu. Aku membayangkan aku akan mati cukup lama. Ini aneh bahwa hidup saya harus berakhir di tempat yang mengerikan, tapi selama tiga tahun aku punya mawar dan saya meminta maaf kepada siapa pun.

Saya akan mati di sini. Setiap inci terakhir dari saya akan binasa. Kecuali satu.

Inci. Ini kecil dan itu rapuh dan itu satu-satunya di dunia ini berharga. Kami tidak pernah harus kehilangan itu, atau menjualnya, atau memberikannya. Kami tidak pernah harus membiarkan mereka mengambilnya dari kami.

Saya tidak tahu siapa Anda. Atau apakah Anda seorang pria atau wanita. Aku mungkin tidak pernah melihat Anda atau menangis dengan Anda atau mabuk dengan Anda. Tapi aku mencintaimu. Saya berharap bahwa Anda melarikan diri tempat ini. Saya berharap bahwa dunia berubah dan bahwa hal-hal menjadi lebih baik, dan bahwa suatu hari orang memiliki mawar lagi. Aku berharap aku bisa menciummu.


Valerie
X
dari V for Vendetta
Ditulis oleh Alan Moore.
Art by David Lloyd....
  • Title : Intisari dan kesimpulan yang dapat kita ambil dari film Mr. V (mr. Vendetta)
  • Labels :
  • Author :
  • Rating: 100% based on 10 ratings. 5 user reviews.
  • 0 komentar:

    Posting Komentar